Saya sudah pernah menuliskan di artikel pertama yang dipublish di web Jurusan Pendidikan Geografi, bahwa era digital sudah berkembang begitu cepat dalam hal apapun termasuk dalam pembelajaran. Era papan tulis diganti layar tancap. Kapur tulis dan spidol sudah tergantikan dengan motion PowerPoint. Tatap muka pun sudah tergantikan dengan live streaming.

Anak-anak tempo doeloe bisa kritis dengan membaca beberapa tumpukan buku, namun saat ini sikap kritisnya terbentuk dari fakta-fakta yang didapat dari tayangan Youtube ataupun postingan Instagram. Zaman saya dulu, buku bisa lusuh walaupun tersampul dengan baik dan rapi. Saat ini, walau tanpa tersampul sama sekali pun, buku masih bisa halus dan mulus. Pintar menyimpan? Tidak juga. Lebih tepatnya, mereka lebih nyaman menatap layar gadget daripada untuk sekadar membalik satu halaman. Saya tidak menghakimi namun pada umumnya seperti itu.

Keadaan sebaliknya, justru pendidik yang masih belum siap dengan kehadiran teknologi dan masih nyaman dengan metode yang konservatif. Banyak sekali ketika saya membuka media sosial, komentar idealis beberapa oknum guru yang menyatakan bahwa peran guru tidak bisa digantikan oleh teknologi. Memang tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Peran pedagogik memang sering kali kesulitan untuk diimplementasikan lewat teknologi. Tapi, teknologi itu dibutuhkan sebagai media, yang sulit bisa dipisahkan dari kehidupan siswa-siswi milenial.

 

Youtube-isasi Pembelajaran di Tengah Krisis Edukasi

Faktor mengikuti perkembangan zaman sudah menjadi alasan yang klise, sejujurnya saja. Kenyataannya, tanpa disadari dan tanpa perlu diingatkan pun, secara natural manusia akan selalu mengikuti setiap perkembangan peradaban. Cepat atau lambat. Ayah saya yang dulunya luar biasa idealis mengatakan HP Android adalah sumber racun yang merusak moralitas, pun kini berbalik sangat gigih membangun pembelajaran berbasis online, walaupun masih sebatas sumber literasi dan bukan untuk streaming.

Alasan lain yang lebih tinggi urgensinya adalah mengalihkan “kotornya” platform media online menjadi media yang sangat edukatif. Kita bisa lihat saat ini, video apa yang sering menjadi trending dan paling atas muncul di thumbnail feed Youtube kita. Konten prank, konten pamer harta, konten settingan, dan konten-konten lain yang tidak bermutu dan tidak mendidik. Buruknya pula, trendingnya video-video tersebut ya memang karena sangat menarik fokus dan perhatian para anak didik kita.

Apakah ini salah teknologi? Salah Youtube? Salah orangtua yang tidak mampu mengawasi? Atau jangan-jangan salah kita sebagai pendidik?

Kita ibaratkan misalnya seperti sebuah pasar. Di dalamnya banyak sekali pedagang yang menjualkan jajanan yang sebenarnya tidak sehat, namun yang berdagang jajanan sejenis jumlahnya luar biasa banyak. Kemasannya pun unik-unik. Dan menarik. Hanya ada satu dua pedagang yang menjual jajanan sehat, itupun dengan kemasan ala kadarnya. Penjual jajanan sehat yang lain memilih untuk menunggu pesanan daripada berinisiatif memasarkan makanannya.

Seperti itulah kondisi platform online saat ini. Saya contohkan Youtube. Youtube tidak punya algoritma untuk menentukan mana konten yang sehat dan mana yang tidak sehat. Algoritma Youtube hanya mendeteksi plagiasi dari sebuah hak cipta, kriminalitas, dan kekerasan. Atau juga bisa men-take down konten yang mendapatkan respon negatif berupa dislike maupun laporan dari komunitas.

Maraknya konten sangat tidak edukatif itu bukan salah Youtube. Youtube berusaha menjamin kebebasan berekspresi dan berkarya, sehingga tidak menyusun indikator apakah harus edukatif atau tidak. Pun, Youtube juga membutuhkan pemasukan dari iklan. Yang salah, adalah kita yang tidak memberikan alternatif tontonan edukatif yang menarik perhatian generasi muda kita, utamanya anak didik kita tentunya.

Para pendidik masa kini harusnya melihat fenomena seperti ini. Peka terhadap apa yang terjadi di dalam kehidupan anak didiknya. Anak kelihatan berbakat bermain bola, ya sediakan bola dan ajarkan teknik bermain bola. Jangan sekadar memberikannya teori soal sepakbola, membelikannya majalah Soccer misalnya yang mewartakan info sepakbola, cuma gosip pula. Anak akan kehilangan tajinya dalam bakatnya, bahkan mencari pertualangan baru yang jauh dari bakat dan mungkin bisa saja terjerumus ke dalam aktivitas yang menhancurkan sisi bakat alaminya.

Sama halnya media online. Kita sudah tahu anak-anak kita sangat tertarik menonton Youtube dan scrolling Instagram. Maka sediakan pembelajaran dari sana. Jangan sekadar memberikan nasihat “Berhati-hatilah dengan media online!” atau “Saringlah informasi yang beredar di internet!”. Saringan akan lebih mudah menghasilkan santan yang banyak apabila parutan kelapanya diberi air yang banyak, bukan parutan kelapanya yang diperbanyak, tapi airnya sedikit.

Kedepannya, Youtube-isasi pembelajaran harusnya lebih digencarkan dan mulai digarap. Saya sendiri sudah menggencarkan jargon #YoutubeUntukEdukasi dan #MedsosUntukEdukasi. Terutama, jargon ini saya pakai ke dalam channel saya yaitu Zarko Channel (saya tidak promosi, namun monggo kalau mau subscribe). Sampai tulisan ini dipublish, kira-kira sudah terupload 31 video dan hanya 5-6 video yang berisi umum dan sekadar hiburan. Dan saya sering menggunakannya untuk menyampaikan materi pengayaan yang tidak saya ajarkan di dalam kelas.

 

Tampilan Channel Zarko Channel

(Sumber: https://www.youtube.com/channel/UCjJtX46qgVoBq8J_yH9vaWw)

 

 

Kebutuhan Mata Kuliah Video dan Audio

Lebih minatnya generasi muda terutama siswa-siswa terhadap konten yang jelas-jelas sangat tidak edukatif juga dipengaruhi oleh faktor buruknya video dan audio, serta konsep konten yang tidak menarik. Video yang asal-asalan, pengaturan backsound yang mengganggu suara naratornya, atau suara yang bias (jika video dalam bentuk vlog), juga menjadi persoalan yang tidak remeh. Bisa pula karena opening yang sudah tidak menarik sama sekali. Teori first impression tidak hanya berlaku di pertemuan tatap muka, namun dalam konten digital pun sama pentingnya.

Untuk saat ini, jumlah like tidak bisa digunakan sebagai ukuran. Youtube mengubah algoritmanya karena banyak akun-akun bot yang mendompleng jumlah view dan like. Ketertarikan terhadap konten-konten edukatif untuk saat ini dilihat dari berapa persen durasi tonton setiap videonya. Minimal 50% dari total durasi, maka konten kita menarik. Di bawah itu, maka ada yang salah dengan pembawaan video kita.

Problem ini dirasakan juga oleh saya. Berhubung berbekal dari belajar video audio secara otodidak, akhirnya teknik editting saya juga terbatas. Umumnya, video saya mendapatkan durasi tonton sebesar 30%. Memang tepat berada di rentang rata-rata durasi tonton seluruh video yang terupload di Youtube, yang jumlahnya jutaan tersebut. Namun, 30% durasi menunjukkan video kita yang masih memiliki banyak kekurangan. Misalkan saja video kita berdurasi 10 menit, maka rata-ratanya adalah ditonton selama 3 menit setiap kali klik. Padahal, inti materi yang disampaikan ada di menit ke 4-8.

Berhubung kebutuhan Youtube-isasi pembelajaran atau platform apapun itu, maka sepertinya mata kuliah video audio menjadi sangat diperlukan. Munculnya mata kuliah baru ini sangat relevan dengan kebutuhan saat ini. Ketika penggunaan media digital sedang digencarkan, maka skill editting juga perlu ditingkatkan. Juga, salah satu faktor yang membuat para pendidik males untuk moving on dan bertahan dengan cara konservatif adalah kurangnya penguasaan skill dalam teknologi.

Di masa depan, saya membayangkan semua guru adalah Youtuber. Menghiasi trending, menjadikan Youtube sebagai platform edukatif, dan menjadi role model penggunaan teknologi yang positif kepada siswa-siswanya. Masalahnya tinggal: kita mau atau tidak? Diajari tidak? Tunggu saja tanggal mainnya.

---------

 Muhammad Zarkasi, atau akrab dipanggil Cak Zarko, adalah alumni Jurusan Pendidikan Geografi angkatan tahun 2015 dan lulus tahun 2019. Saat ini, Cak Zarko mengajar di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya. Selain mengajar, Cak Zarko juga aktif menulis dan menjadi content creator dari Zarko Channel.