KKL (Kuliah Kerja Lapangan) merupakan kegiatan yang tidak asing lagi bagi mahasiswa. Apalagi untuk mahasiswa jurusan geografi. Tentunya hal ini menjadi kegiatan rutin dan wajib di ikuti bagi semua mahasiswa. Walaupun merupakan agenda rutinan dan wajib namun hal ini tidak menjadi sesuatu yang menakutkan di mata mahasiswa khususnya untuk mahasiswa jurusan geografi itu sendiri.

Kegiatan KKL yang baru di laksanakan pada jumat 19 Oktober 2018 sampai 21 Oktober 2018 kemarin merupakan kegiatan KKL pertama bagi mahasiswa jurusan Geografi angkatan 2017. Bintang Faizal Nur Yusuf sebagai ketua pelaksana mengaku bahwa kegiatan KKL geografi fisik ini mengangkat tema “DEKSTRAL X SINISTRAL”. Tema tersebut merupakan hasil diskusi dari segenap panitia dengan pertimbangan makna yang begitu mendalam yaitu dedikasi eksternal alam yang artinya bahwa saat kuliah lapangan bukan melulu diajarkan tentang teori saja, namun lebih dari itu dedikasi di luar bangku kuliah sangat di perlukan saat ini. Makna kedua yaitu sinistral kepanjangan dari simplikasi praktis geoliteral, makna tersebut memiliki arti sebagai penerapan praktis terhadap materi-materi geoliteral yang telah di pelajari mahasiswa sebelumnya di bangku kuliah. Dengan tema tersebut kegiatan KKL ini memiliki tujuan bahwa di harapkan mahasiswa S1 Pendidikan Geografi 2017 UNESA dapat mengambil praktis-praktis alam dan mendedikasinya dalam kehidupan sehari-hari. KKL geografi fisik yang dilaksanakan selama 3 hari dengan pemilihan lokasi Jogyakarta-Klaten lebih tepatnya di daerah Pantai Parang Tritis dan Alam Bayat. Pemilihan tempat tersebut atas dasar pertimbangan yang matang dari segenap panitia beserta dosen pembimbing. Hal ini di karenakan keadaan daerah yang kompleks terhadap materi yang diterima mahasiswa sebelumnya di kelas.

Dalam kegiatan ini mahasiswa di berangkatkan pada hari Jumat 19 Oktober pukul 16.00 WIB dan tiba di Surabaya pada hari Minggu 21 Oktober 2018 pukul 04.00 WIB. Banyak sekali kegiatan yang dilakukan dalam KKL tersebut. Pertama daerah Pantai Parang Tritis dan sekitarnya kegiatan yang dilakukan meliputi, pengukuran panjang gelombang di tepi pantai, mengukur kadar salinitas air, mengukur ph air, mempelajari sand dune atau gumuk pasir, mengetahui proses terjadinya mata air panas, mengenal batuan beku serta pelapukannya, mengukur horizon tanah dan sampai pada praktik pemetaan daerah kontur menggunakan teodolit. Kegiatan tersebut dilakukan hanya dalam kurun waktu sehari yaitu pada hari Sabtu, 20 Oktober 2018. Kemudian setelah dari daerah parang tritis kegiatan bergeser  ke daerah bayat. Disana Mahasiswa menginap di Kampus geologi Bayat. Malam harinya, Mahasiswa peserta KKL mendapatkan pemantapan materi sebagai bekal penjelajahan alam Bayat untuk keesokan harinya yang di sampaikan oleh Ir. Didit Hadi Barianto Dr.Eng.MSi.Eng.S.T .  Penjelajahan alam bayat di mulai pukul 07.15 WIB pada hari Minggu 21 Oktober 2018. Di tempat pertama dikenalkan dengan bentuk asli dari batuan beku yang sudah berumur 22 juta tahun yang lalu, tidak hanya itu batuan tersebut juga telah mengalami pelapukan secara kimiawi sehingga terlihat lapisan-lapisan batuan yang mulai mengelupas dan terlihat batuan yang fresh. Kemudian di tempat kedua di kenalkan dengan batuan gunung di dasar laut yang sudah terangkat ke permukaan. Batuan ini sudah berumur 20 juta tahun yang lalu. Tidak hanya itu juga terdapat batuan metamorf yang sudah berumur 98 juta tahun yang lalu dan terbentuk di kedalaman 15 km di bawah permukaan tanah. Kemudian terdapat batuan purba (tertua di jawa) yang merupakan kuburan dari binatang bersel satu (porifera) cangkang-cangkangnya menempel di batuan tersebut dan sudah berumur 98 juta tahun yang lalu. Selain itu, kegiatan di jogyakarta diakhiri dengan berkunjung ke Malioboro, walaupun estimasi waktu sangat singkat atau bisa di katakana belanja uang kaget. Namun, mahasiswa peserta KKL mengaku cukup puas dengan kunjungan yang singkat namun berkesan.